Read more at: http://www.kutulis.com/2012/02/tips-cara-menganti-gambar-kursor.html Copyright http://www.kutulis.com/ Under Common Share Alike Atribution irda is my name: Desember 2010
CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 19 Desember 2010

nemuin setengah di kampus...damm

Keputusan Setengah Hati
Aroma wewangian bunga disekeliling rumah penduduk begitu segar, menambah gairah semangat belajarku pagi itu. Hembusan angin sepoi-sepoi seakan menerobos sukmaku menuju impianku. sesungging senyum dari keramahan warga desa pun adalah awal pelajaran bagi setiap makhluq Tuhan yang menjunjung tinggi nilai toleransi yang kuat. Ditambah gambaran yang begitu jelas dari raut wajah manusia paruh baya itu, seorang kakek tua yang meminggul seujung tongkat yang tiap ujungya membawa beban berupa makanan untuk dijual ke pasar, ya gambaran itu selalu menghiasi wajahku tiap pagi saat melewati kampung menuju sekolah tercintaku, tempat penghubung sejarah mahakarya dari tahun ke tahun, tempat terhebat untuk mematikan pemikiran-pemikiran yang kerdil, dan tempat untuk melumpuhkan senyawa-senyawa aneh yang akan menggerogoti kecerdasan para calon intelektual.Tap!Langkah kakiku menuju SMP harapan bangsa semakin kuat. Decak sepatuku berbunyi menambah keramaian pagi yang begitu sejuk. “assalamu’alaikum, man jadda wa jadda” sapa pak hadi semangat tiap kali menyapa muridnya di depan pintu gerbang. Budaya yang bagus. Budaya yang simpel namun kekuatanya mampu membius akal sehatku untuk tetap fokus mensugestikan diri ke masa depan. Walau pak hadi hanyalah seorang penjaga sekolah namun agaknya sekolah ini sengaja menyetting jiwa-jiwa yang alergi, dan anti kata gagal. Ya, man jadda wa jadda demikian kalimat arabnya yang jika diartikan “siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil”. Hari pertama dalam bulan februari, seperti biasa aku harus menginstal ulang niat yang baik sebelum memulai pelajaran. Kewajiban untukku bahkan bagi seluruh murid SMP Harapan Bangsa. X+25+..!matematika!pelajaran paling dibenci oleh sebagian murid kelas IX A saat itu. Ah!kesimpulan yang aneh, namun membudaya dari tahun ke tahun dalam tiap generasi. Image aneh yang begitu kental dan melekat oleh sebagian besar teman-temanku. Terkecuali Rio. Dia! ya dia juga tak hanya menarik perhatian pak Gembul begitulah julukan bagi Guru Matematika yang terkesan galak, tapi juga aku. Bahkan dia tak hanya menarik perhatianku, namun juga mampu menarik semua hal dalam diriku, kecerdasanya, ketampananya, kebaikan hatinya, bahkan senyumnya sangat kuat menarik diriku. Magnet!! semua tentang dirinya menarikku memasuki ruang hidupnya. Aneh rasanya tapi ini bukan, melainkan gejala alam yang berjalan secara natural, gelitik batinku. Sejak kemampuanya mensejajarkan rangking denganku di podium prestasi SMP harapan Bangsa, bahkan kecerdikanya yang mampu mengalihkan perhatian banyak guru terhadapnya yang jelas-jelas dari awal semua guru hanya terpusat padaku,saat itulah aku mulai ‘lumpuh’ dibuatnya. “sial!kali ini aku kalah lagi” geramku tiap kali selesai ujian ilmu alam. Pertandingan yang sehat namun sejatinya tak sehat bagi jiwaku, terlihat mendramatisir namun, ah!lagi-lagi aku tak tau harus menyebut apa perasaan ini, karena senyumnya yang menawan tiap kali menyapaku seusai pulang sekolah benar-benar membuatku mendadak mati rasa.
Pisah..!ya, aku dan dia kini terpisah karena ternyata pilihan Sekolah Menegah Akhir kami tak sama. Kenapa secara tiba-tiba?bukan!ini bukan tiba-tiba namun pikiranku yang tak bisa memutar otak lebih dari itu. Tak tahu pertanda apa. Aku benci semua ini. ***
3 tahun sudah berlalu. Bekas ingatanku di lampau masih melekat kuat. Penuh dengan kejanggalan hidup yang sampai detik ini aku masih tak tahu, antara kelogisan akal fikiran dengan perasaan seolah tak akan bertemu di titik yang aman. Perdebatan hebat itu masih mewarnai kerangka hidupku. Entah apa maunya ibu, entah apa maunya bapak. Sedangkan aku tetap berdiri dalam ideologi yang melahirkan cita-cita yang dipandang mereka tak lazim. “nak..Universitas dengan background islam sekarang tak lagi dipandang rendah. Kita dilahirkan untuk tidak memandang kelayakan manusia dari satu background saja”. Bujuk bapak dengan penuh keyakinan. Lagi-lagi aku menjawabnya dengan keyakinan setengah hati. Dalih orang tua tentang urusan akhlaq dan akhirat tak jauh beda saat aku memilih SMA atau MA. Sama sekali aku tak bisa menangkap alasan klasik mereka. Dasar pemikiran yang menurutku sempit. cukup! tak mau menambah dosa dengan terus beradu mulut dengan mereka. Sedari itu aku berusaha memaksa perasaanku untuk berdamai dengan keputusan mereka. Tak ada jawaban, hanya anggukan yang ada. Biar ini menjadi keputusan setengah hatiku untuk ketiga kalinya. Esoknya kembali dengan rencana awalku. Menata kembali perasaan risau, dan mencatat semua ini dengan keikhlasan yang matang. ***
3 bulan berlalu dengan cepat, hingga tak sadari sekarang aku mencium gedung beraroma keIslaman yang tak asing lagi. Dalam fikirku ini seperti mimpi. Untuk ketiga kalinya aku menuruti apa kata ibu dan bapak. “Oh my God..ha..ha.”tawa otakku kepada perasaan bimbangku. Bismillah begitu kalimatnya, Kalimat yang selalu terpatri kuat-kuat dalam hatiku setiap aku menemukan jiwaku dalam keraguan yang hebat. Trap!!lamunanku terhenti. Ya Allah buku yang sedari tadi berada dalam tanganku tiba-tiba terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. “maaf..maaf..saya jalan tidak lihat-lihat” kataku dengan penuh ketakutan. sejurus kemudian, cess..setetes salju serasa merembes dengan cepat dikepalaku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mataku seakan terikat kuat dengan sosok yang ada di depanku. Spontan gerakan tanganku seperti anak kecil yang jelas itu menandakan sikap aneh dan kakiku, tak tau harus bergerak kemana. Tuhan, inikah jawabanMu tentang sebuah keilhlasan yang selama ini kuragukan. Tak sangka ternyata aku melakukan kebodohan yang fatal, perasangka burukku padaNya ternyata salah. Maafkan aku Tuhan maafkan aku ibu bapak, terlihat sangat jelas sosok itu adalah Rio. Ternyata ada rencanaMu yang dulu aku tolak mentah-mentah, tapi sekarang aku baru mengerti bahwa mengumpat rencana brilian Tuhan adalah kesalahan besar, kini aku bisa melanjutkan sepenggal kisahku dulu di tempat yang sama.

love you as always Micky



i LOVE komments...;)

Ada kesalahan di dalam gadget ini